Kamis, 15 Agustus 2013

Pesantren : Antara Kemulian dan Penghancur

Kembali Tentang Pesantren


Ketika bom meledak di Depok, lalu sebelumnya di Solo terjadi tembak menembak dengan polisi. Lalu ada seorang korban yang merupakan alumni pesantren. Kembali lagi pesantren dan ulama disorot. Bahkan ketika diskusi di media, ada usulan untuk melakukan sertifikasi ulama. Ini negara yang rumit. Selalu saja latah. Semangatnya selalu mengekor. begitu guru disertifikasi, sampai helm harus ada logo SNI. Kemudian begitu ada moratorium TKI, maka hutan pun ikut moratorium. Pemekaran kabupaten dan kota, juga dengan pembukaan prodi. Satu departemen memunculkan satu istilah, maka yang lain mengekor.

Coba kita lihat lagi pesantren. Apa yang salah dari pesantren. Tidak ada satupun kurikulum pesantren yang menegaskan apalagi mengajarkan untuk mengebom. Kalau ada alumni pesantren yang ikut ke Afghanistan dan jadi militan, itu benar. Tapi bukan karena faktor pesantren. kata salah satu nara sumber di Indonesia Lawyer Club, kalau alumni UI, UGM dan STAN korupsi, apakah kita harus membubarkan UI, UGM dan STAN?. Selalu saja media tidak pernah mau bersikap seimbang terhadap pesantren dibanding lembaga pendidikan lain. Padahal pesantren seperti Lirboyo, Gontor itu sudah berdiri jauh sebelum ada kata Indonesia. Artinya mereka ikut mendirikan Indonesia. Setelah merdeka apalagi. Hidayat Nur Wahid, Emha, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Malik Fajar, Irfan Idris diantara segelintir alumni pesantren yang berkiprah nasional. belum lagi Maftuh Basyuni, Anis Matta, Komaruddin Hidayat, Ali Mukhtar Ngabalin, Sahrin Hamid, juga alumni pesantren.

Tentu ada alumni pesantren yang berkelakuan yang tidak pantas. Tetapi perlu penjelasan, itu terjadi bukan karena pesantren. Sebagaimana kata Eistein. Kegelapan terjadi bukan karena ada gelap tetapi ketiadaan cahaya. Sebagaimana dingin terjadi karena ketiadaan panas. Selanjutnya masih kata Eistein, kalaulah ada kejahatan bukan karena Tuhan yang menciptakan kejahatan itu. Tetapi karena ketiadaan Tuhan dalam denyut nadi kehidupannya, lalu mereka berbuat jahat.

Pada tempatnya, kita perlu melihat sejarah. Kata Nurcholish Madjid, kalaulah bukan karena kolonialisme, maka pesantren akan tumbuh sebagaimana pertumbuhan Harvard, Oxford dan Cambdridge. Maka mungkin saja perguruan tinggi kita menjadi Universitas Pacitan, Lirboyo, Tebu Ireng. Salah satu hal yang paling menggemaskan secara komunal, kita ini bangsa yang suka lupa. Ketika STAN belum ada, pesantren-pesantren sudah memasok kader-kader bangsa terbaik. Dari 230 juta penduduk Indonesia ada 45 juta keluarga besar pesantren. Kelompok minoritaspun seperti Ahmadiyah, Syiah dan kelompok lain perlu kita ajak bergandengan tangan. Apalagi kalau komunitas pesantren. Pesantren dalam bahasa Lukens-Bull (2005) adalah pejuang peaceful jihad. Kalau Manfred Ziemek (1986) memberikan penjelasan bahwa pesantren di Indonesia menjadi penggerak perubahan sosial. Penelitian Pohl (2009) juga memberikan bukti bagaimana pesantren menjadi pilar pendidikan nasional. Itu pengakuan para sarjana dari luar negara. Belum lagi hasil penelitian Mastuhu (1994), Dhofier (1982) dan Rahardjo (1988).

Akan lebih baik, jika para pekerja pers sebelum memberikan argumentasi dan liputan, kembali membaca sejarah pendidikan Indonesia. Bahkan kalaulah stigma itu muncul, maka menjadi tugas direktorat pesantren yang berada dalam lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam untuk melakukan kajian dan distribusi informasi mengenai pesantren. Semoga.

Sumber : Kompasiana

0 komentar:

Posting Komentar