Jumat, 09 Agustus 2013

Silatuhrahmi Aktivis 98

Silatuhrahmi Aktivis 98

Jakarta, Di hadapan para peserta kegiatan “Sarasehan dan Silaturahmi Aktivis ’98”, Rabu (27/8), Jimly Asshiddiqie mengingatkan kembali mengenai 6 (enam) Agenda Reformasi yang diusung oleh gerakan mahasiswa di tahun 1998. 

“Enam agenda reformasi yang dituntut oleh gerakan mahasiswa ’98, sekarang hampir semuanya sudah dilaksanakan. Hanya saja belum terlalu sempurna dan masih harus terus dikawal”, paparnya.

Idealisme yang terkadang luntur oleh kekuasaan dan sistem pergantian roda kepemimpinan antar generasi juga menjadi bahan penegasan sambutan Jimly kepada para aktivis mahasiswa yang telah terdaftar menjadi calon legislative (caleg) dari berbagai partai peserta pemilu, baik untuk tingkat pusat maupun tingkat daerah.

Acara yang digagas oleh Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) ini memang terkesan sederhana. Namun demikian, jika melihat peserta yang hadir sudah pasti kesan tersebut akan langsung berubah. Sederet nama aktivis mahasiswa yang memotori gerakan reformasi turut hadir sebagai narasumber dan peserta aktif dalam acara tersebut.

Untuk menyebut beberapa di antaranya, seperti Rama Pratama, Kusfriardi, Sarbini, Masinton, Suryo AB, Sahrin Hamid, Hanif Dhakiri dan Budiman Sujatmiko seakan-akan menjadi ruh dalam diskusi yang bertajuk “Lepas Aktivis ’98 Menuju Pemilu 2009: Antara Idealisme dan Pragmatisme Politik”.

Menurut keterangan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara, Ray Rangkuti, para aktivis ’98 yang berkumpul ingin menegaskan komitmen lamanya di era reformasi untuk menuntaskan agenda reformasi. 

“Kawan-kawan ’98 yang akan menjadi caleg dalam Pemilu 2009 tentunya harus mempersiapkan visi dan misinya masing-masing dengan jelas, bukan sekedar membawa nilai popularitas semata. Ini adalah pertaruhan generasi”, ungkap Ray, Direktur LIMA, dengan nada yang berapi-api.

Siapapun yang terpilih menjadi anggota legislatif, lanjutnya, diwajibkan untuk tidak sekali-kali melakukan korupsi. “Jika sampai ada yang terlibat korupsi, maka kami-kami jualah yang akan mendesak kalian untuk turun dari Parlemen”, singkatnya.

Komitemen bersama aktivis ’98 terhadap Pemilu 2009 dan keterpilihannya sudah ditorehkan. Dapatkah mereka memberi warna baru pendewasaan politik di Indonesia? Masyarakat kini tinggal menunggu janji, komitmen dan kiprah mereka dari Senayan

Sumber : Jimmy

0 komentar:

Posting Komentar