Taufan Ditolak Jadi Ketua Umum KNPI
Jurnas.com | PENETAPAN Taufan Rotorasiko sebagai Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) oleh Najamudin Ramly selaku pimpinan sidang pemilihan yang berlangsung Jumat, 29/10, pagi dipersoalkan beberapa organisasi kepemudaan, karena tidak sesuai dengan mekanisme pemilihan. "Kami menegaskan bahwa saudara Taufan Rotorasiko belum sah dan tidak mendapatkan legitimasi menjadi ketua Umum DPP KNPI," kata Ketua Umum Pemuda Katolik, Natalis Situmorang dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (28/10) malam.
Dituturkan Natalis, proses pemilihan dengan sistem pencoblosan itu diikuti oleh setiap utusan OKP dan DPD KNPI Propinsi. Selain Taufan, nama kandidat lain di antaranya, Sahrin Hamid, Doly Kurnia, Sultan Najamudin, Ariza Sabana, Shoim, SJ Arifin, Arip Mustopa, Cupli Risman, dan Nuzran Joher.
Penghitungan suara setiap Bakal Calon Ketua Umum KNPI tersebut diperoleh hasil, yakni Taufan mendapatkan 68 suara, Ariza 25 suara, Doly Kurnia 23 suara, Sahrin Hamid 22 suara, serta kandidat lain hanya memiliki suara rata-rata di bawah 10 suara dari 159 suara sah yang diperebutkan (GMKI dan HIPMI tidak hadir dalam pemilihan).
Sebagaimana Pasal 3 ayat 3 poin c, maka Taufan menjadi Bakal Calon yang lolos menjadi Calon Ketua Umum karena mendapat dukungan di atas 20%. Namun, "Taufan belum dapat secara otomatis terpilih secara aklamasi karena pada poin d,e,f mengatur, ketua terpilih secara aklamasi jika mendapatkan suara 50%+1, dan sesuai poin f pada pasal 3 ayat 3 tersebut maka harus dilakukan putaran II," kata Natalis.
Menurut Natalis, Najamudin Ramly selaku pimpinan sidang pemilihan, langsung menetapkan Taufan menjadi Ketua Umum. Otomatis, keputusan tersebut membuat para peserta kongres serta OKP dan DPD pendukung Bakal Calon yang lain melakukan protes keras agar Najamudin mencabut dan membatalkan keputusannya itu.
Karena itu, menurut Natalis, terpilihnya menantu Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya (Golkar) Aburizal Bakrie tersebut ditolak oleh sebagian OKP, karena dianggap bertentangan dengan mekanisme pemilihan KNPI. "Taufan juga tidak didukung oleh lebih dari setengah OKP yang memberikan suaranya," ujar Natalis.
Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam, Rahmat Kardie menjelaskan, dirinya juga tetap akan mempersoalkan masalah ini serta mendorong OKP-OKP dan para kandidat yang lain untuk bersikap sama. "Agar publik dan pemuda Indonesia mengetahui bahwa masih banyak yang berpegang teguh pada aturan main dan idealisme pemuda," ujar Rahmat. "Jika perlu kami akan menggagas forum atau wadah untuk itu," kata Ketua Umum PB HMI Fajri menimpali dan diamini oleh utusan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Bernard.
Sumber : Jurnas Jakarta | Sabtu, 29 Oktober 2011 07:51 WIB
Dituturkan Natalis, proses pemilihan dengan sistem pencoblosan itu diikuti oleh setiap utusan OKP dan DPD KNPI Propinsi. Selain Taufan, nama kandidat lain di antaranya, Sahrin Hamid, Doly Kurnia, Sultan Najamudin, Ariza Sabana, Shoim, SJ Arifin, Arip Mustopa, Cupli Risman, dan Nuzran Joher.
Penghitungan suara setiap Bakal Calon Ketua Umum KNPI tersebut diperoleh hasil, yakni Taufan mendapatkan 68 suara, Ariza 25 suara, Doly Kurnia 23 suara, Sahrin Hamid 22 suara, serta kandidat lain hanya memiliki suara rata-rata di bawah 10 suara dari 159 suara sah yang diperebutkan (GMKI dan HIPMI tidak hadir dalam pemilihan).
Sebagaimana Pasal 3 ayat 3 poin c, maka Taufan menjadi Bakal Calon yang lolos menjadi Calon Ketua Umum karena mendapat dukungan di atas 20%. Namun, "Taufan belum dapat secara otomatis terpilih secara aklamasi karena pada poin d,e,f mengatur, ketua terpilih secara aklamasi jika mendapatkan suara 50%+1, dan sesuai poin f pada pasal 3 ayat 3 tersebut maka harus dilakukan putaran II," kata Natalis.
Menurut Natalis, Najamudin Ramly selaku pimpinan sidang pemilihan, langsung menetapkan Taufan menjadi Ketua Umum. Otomatis, keputusan tersebut membuat para peserta kongres serta OKP dan DPD pendukung Bakal Calon yang lain melakukan protes keras agar Najamudin mencabut dan membatalkan keputusannya itu.
Karena itu, menurut Natalis, terpilihnya menantu Ketua Umum DPP Partai Golongan Karya (Golkar) Aburizal Bakrie tersebut ditolak oleh sebagian OKP, karena dianggap bertentangan dengan mekanisme pemilihan KNPI. "Taufan juga tidak didukung oleh lebih dari setengah OKP yang memberikan suaranya," ujar Natalis.
Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam, Rahmat Kardie menjelaskan, dirinya juga tetap akan mempersoalkan masalah ini serta mendorong OKP-OKP dan para kandidat yang lain untuk bersikap sama. "Agar publik dan pemuda Indonesia mengetahui bahwa masih banyak yang berpegang teguh pada aturan main dan idealisme pemuda," ujar Rahmat. "Jika perlu kami akan menggagas forum atau wadah untuk itu," kata Ketua Umum PB HMI Fajri menimpali dan diamini oleh utusan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Bernard.
Sumber : Jurnas Jakarta | Sabtu, 29 Oktober 2011 07:51 WIB






0 komentar:
Posting Komentar